Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
MENYAPA DUNIA DENGAN DUNIA MAYA

Nov 4, 2007

Waspada

How...?

Assalamualaikum.... dengan kerendahan hati coba liat dan renungkan situs (http://www.indonesia.faithfreedom.org)ini. seakan mereka tertawa dan lepas bergunjing dibelakang kita. stab from the back. what will you do...? what should we do...? how should we ...? bagi temen-temen yang mo post di situs tersebut, pelajari benar apa yang akan di posting karena forum ini akan menyerang balik layaknya bumerang. Yang penting adalah mempertahankan AQIDAH... Wassalamu'alaikum

Gosip

Dua Isu Besar, Tunda Keberangkatan MABA 2007.

Benarkah demikian?

Ada dua isu besar tentang MABA (Calon Mahasiswa Baru) tahun akademik 2007 ini. Berita ini saya dapatkan dari lisan beberapa teman-teman saja, baik di Mesir maupun di Indonesia.

1. MABA tahun ini, diundur keberangkatannya sampai tahun 2008. Artinya, keberangkatan MABA dipending setahun lamanya.

2. Berdasarkan informasi dari salah satu mediator di Indonesia, bahwa di Mesir ini… didapati kasus Mabahis memukul Mahasiswa Indonesia, berita jelasnya saya tidak tahu. Berdasarkan informasi juga, bahwa berita ini sudah cukup ramai dibicarakan khususnya dikalangan para Mediator di Indonesia.

Pada Mediator di Indonesia sempat merasa khawatir mengenai isu tersebut, apakah berita pemukulan Mabahis kepada Mahasiswa Indonesia itu benar adanya?. Dan kalau seandainya memang berita itu benar… Apakah ada hubungannya dengan sulitnya birokrasi mendapatkan visa di Indonesia bagi MABA yang ingin berangkat ke Mesir tahun ini.

Mohon penjelasan bagi yang tahu informasi tentang ini atau diklarikasi jika ada berita atau isu yang tidak benar.

Terima Kasih

Cerita Hikmah

Hijrah Menuju Kebaikan

“The Obvious of Story”

Kisah ini adalah perjalanan hidup temanku (maaf, penulis menghidden nama ini dengan alasan tertentu), dia berasal dari Kota Tanggerang, terlahir dari keluarga biasa dan tinggal disebuah daerah metropolis, tepatnya di sebuah perumahan (penuilis lupa nama perumahan tersebut) yang kurang menguntungkan untuk melaksanakan kegiatan keagamaan. Kisah ini –menurutku– penuh kesan dan arti dibalik perjalanan hidupnya. Sederhana ceritanya, tapi ada beberapa hal yang membuatku tergugah, disamping cerita ini adalah kisah nyata, juga cerita ini memiliki kemiripin skenario yang pernah aku lalui dalam lembaran hidupku ini. Berikut ini kisahnya…

Aku (temanku maksudnya) yang tak pernah menoleh untuk pergi dari lembah kegelapan bergelut dalam kemaksiatan, wajah hitam buram karena seringnya tak terkena siraman air wudhu.

Aku merasa akan hidup seperti ini selamanya, menghabiskan waktu dengan bermain dan bersenda gurau, kulewati masa remaja ini dengan penuh catatan-catatan hitam. Tapi (menurutku saat itu) memang inilah jiwa seseorang yang sedang beranjak dewasa, selalu ingin mencari tahu dan mencoba hal baru (padahal hal baru tersebut belum tentu baik bagi manusia). Tapi amat disayangkan, aku tak mampu mengontrol diri, sehingga aku dengan mudah mengikuti arus kemaksiatan.

Aku sudah lulus dari SMP dan atas perintah orang tuaku, aku diminta untuk melanjutkan ke Pesantren. Apa… “Pesantren”, nama ini pernah aku dengar dari cerita-cerita orang saja, tapi tetap saja masih begitu asing ditelingaku ini. Aku sempat menolak bahkan sempat berkata kasar terhadap orang tuaku, “Pesantren… ‘ngapain hidup di Pesantren, udah ’ga zaman”, begitu jawabanku kepada orang tua. Apalagi, aku juga tak maupisah dengan teman-tamanku yang royal denganku ini. Tapi, sebagai anak… akhirnya sifat kerasku ini luluh juga.

Saat aku diterima di Pesantrean itu (Nama Pesantren tersebut adalah Attaqwa), Aku duduk di kelas satu Aliyah (setingkat dengan 1 SMA), di sebuah Pesantren yang lumayan jauh dari tempat tinggalku. Di Pesantren ini, aku menemukan sebuah komunitas baru yaitu kumpulan para “Santri”. Sebelum masuk Pesantren, aku tidak mengerti banyak tentang agama, karena sebelumnya aku disekolahkan dengan latar belakang umum dan sangat sedikit sekali materi pelajaran tentang keagamaan yang diajarkan disekolah itu. Belum lagi, pergaulanku dengan teman-teman yang kurang menjaga diri, berpakaian saja tidak mencerminkan akhlak, apalagi dalam bersosialisasi dengan masyarakat sudah jauh dari norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Aku mencoba untuk bisa beradaptasi dengan komunitas baru ini, awalnya sempat canggung dan bahkan batin ini ingin berontak, namun perlahan-lahan akupun mulai menyukai suasana baru ini.

Orang tuaku sangat faham dengan karakteristik yang ada dalam diriku, mereka tahu aku ini anak yang susah di atur dan jarang sekali mendengar nasehat dan perintahnya. Sekali lagi ini adalah faktor pergaulan, sehingga kepribadianku pun ikut terpengaruh dan hampir saja aku terjerumus kedalam pergaulan kotor.

Harapan orang tuaku agar aku hidup dengan nuansa akhlak mulia dan berbakti kepada orangtua. Apalagi, aku adalah anak tertua dari tiga bersaudara dan akulah harapan orang tuaku kelak yang akan mengemban tanggung jawab keluarga lebih besar dibanding adik-adikku. Lepas dari itu semua, aku merupakan contoh teladan buat adik-adikku.

Dua hal itulah yang sering terpikir dalam kepalaku. Sehingga akupun akhirnya harus belajar memahami kembali posisiku dikeluarga, semangat belajar dan memahami ilmu agama mulai muncul seiring berkembangnya usiaku di Pesantren, aku tidak ingin lagi mengingat masa laluku yang suram, aku harus berpikir dewasa demi masa depan keluarga.

Perjalanan hidupku masih panjang, tantangan dan cobaan adalah bagian dari perjuangan. Kusapu semua keraguan yang datang di sela-sela belajarku, karna aku tahu, aku lebih dibutuhkan untuk membangun keluarga sebagai anak yang paling dewasa. Pergaulan yang membuatku terpuruk dan yang semakin mengikat erat sudah lama kutinggalkan, disinilah cahaya Allah bermain menyinari di setiap langkahku, mengiringi perjuanganku melawan hawa nafsu yang terkadang mengelabuhi pandangan batinku.

Aku adalah aku, bukanlah seperti aku yang dulu yang mudah terbawa arus ketika tak tahu harus kemana langkah ini di tegakkan. Sekarang aku punya pendirian, masa depan adalah tujuan. Kembalikan masalah kepada Allah, berusaha, berdoa dan bersabar adalah kunci, belajar dari pengalaman itu yang terbaik.

Hikmah Cerita

1. Percayalah… seburuk apapun hidup kita, jangan pernah ada kata “Menyerah” dan akhirnya pasrah. Berusahalah meraih kebaikan tersebut, Innallaha Ma’aana “Sesungguhnya Allah selalu bersama kita”.

2. Ada sebagian masyarakat yang memiliki paradigma bahwa hidup di Pesantrean bagaikan di penjara, kuno, dah ‘ga zaman dan juga susah dapat pekerjaan ketika lulus nanti. Paradigma tersebut adalah “Salah Besar” , dari cerita diatas dan penulis pikir andapun akan sepakat. Jika Pondok Pesantren merupakan solusi tepat untuk pembinaan anak bangsa, khususnya yang beragama Islam.

3. Hormati orang tua, meskipun –terkadang– kita berbeda pendapat, bahkan ideologi. Tetap keharmonisan keluarga harus tetap ditumbuhkan, meskipun pendapat kita –barangkali– benar, terlebih lagi pendapat kita yang salah.

4. Lingkungan kondusif ternyata sangat memiliki efek yang kuat terhadap pembinaan karakter, bukan hanya di Pesantren saja, Pesantren hanyalah merupakan contoh kecil. Kitapun disini (baca; anggota IKPMA) dituntut untuk mencari lingkungan kondusif tersebut, seperti tinggal di rumah dengan teman-teman yang memiliki orientasi hidup yang jelas dan punya target, ataupun kita aktif di organisasi, semisal IKPMA, guna mengasah skill berfikir dan melatih kepekaan sosial.¤

Laporan Khusus IKPMA Mesir

Menanti CAMABA IKPMA 2007-2008

Tak Kunjung Datang

Entah karena kebiasaan mengumbar janji pihak Mediator Indonesia atau memang proses birokrasi yang sulit di Depag dan di Kedutaan Republik Arab Mesir diIndonesia, sehingga pemberangkatan CAMABA (Calon Mahasiswa Baru) IKPMA sempat tertunda beberapa kali. Kali ini, Repotase IKPMA berhasil menemui pihak penanggung jawab CAMABA IKPMA 2007-2008, Kanda H. Iman Fadllurrahman dikediamannya. Berikut laporannya, simak yuk…

Berapa jumlah CAMABA IKPMA tahun ini dan dari mana saja asal mereka? tanya kami kepada Kanda H. Iman Fadllurrahman. Beliau mengatakan, “Jumlah anggota IKPMA tahun ini sebanyak 8 orang (4 Putra dan 4 Putri). Mereka semua adalah alumni Pondok Pesantren Attaqwa Bekasi, meskipun awalnya… pihak Mediator Indonesia sempat menjaring CAMABA dari luar Attaqwa, seperti dari Jawa Tengah dsb. Namun, karena tidak ada satupun diantara mereka yang lulus seleksi ujian yang diselenggarakan Depag beberapa bulan lalu, sehingga CAMABA yang berangkat melalui Mediator Attaqwa hanya 8 orang dan itupun semua berasal dari almamater Attaqwa semua.”

Beliau kembali menambahkan, “Sudah 4 kali, jadwal pemberangkatan CAMABA IKPMA tahun ini mengalami perubahan. Informasi kedatangan pertama pada tanggal 1 September 2007, namun karena pihak Mitra Mediator, Saudara Husni Mubarok dan Fathul Hilmi belum mendapatkan ishal dari KPP-MABA (padahal kami sebagai pendaftar pertama di KPP-MABA), sehingga mau tak mau permberangkatan CAMABA tersebut harus di undur sampai tanggal 17 Ramadhan 1428 H./29 September 2007. Namun, dikarenakan ada satu tambahan berkas lagi, ditambah lagi birokrasi yang sulit di Depag dan di Kedutaan Republik Mesir, dan hal ini juga sudah dimusyawarahkan di Indonesia dengan pihak CAMABA dan keluarganya masing-masing, sehingga pemberangkatan CAMABA ke Mesir kembali diundur sampai tanggal 8 Syawwal 1428 H./20 Oktober 2007. Tapi, kami mendapat informasi mendadak dari pihak Mediator di Indonesia, bahwa pemberangkatan CAMABA (dengan berat hati) terpaksa di undur lagi sampai tanggal 12 Syawwal 1428 H./24 Oktober 2007” Tutur Kanda Iman sambil tersenyum.”

Ketika kami menanyakan kembali kepada Kanda H. Iman Fadllurrahman, akankah ada perubahan lagi setelah 4 kali mengalami perubahan jadwal pemberangkatan CAMABA. Beliau menuturkan, “Kami juga masih meragukan tanggal 12 Syawwal 1428 H./24 Oktober 2007, CAMABA bisa berangkat ke negeri kinanah ini. Karena berdasarkan informasi terakhir yang kami terima, bahwa birokrasi untuk mendapatkan visa sangat sulit, terbukti hanya 30 CAMABA saja yang berhasil mendapatkan visa di Kedutaan Mesir Indonesia, itupun karena Mediatornya sangat akrab dan dekat dengan pihak konsuler Kedutaan Mesir tersebut. Problem kedua, ternyata hubungan Depag dengan Kedutaan Mesir di Indonesia sedang tidak harmonis, karena beasiswa al-Azhar yang semula diperuntukan untuk CAMABA yang lulus seleksi di Depag saja, namun realitanya adalah perubahan terakhir, dan kami juga sudah meminta kepada pihak Mediator di Indonesia dengan sangat, agar tidak terjadi perubahan lagi, disamping ujian yang –tentu– semakin mendekat, juga rasa penantian kami yang begitu panjang, khususnya bagi teman-teman IKPMA yang sangat mengharapkan sekali mendapatkan titipan dari orang tua tercinta di Indonesia, seperti; kiriman uang, obat-obatan dll.”

Kita berharap dengan kedatangan CAMABA IKPMA tahun ini, sebagai bibit-bibit baru yang siap berjuang dan mewarnai IKPMA kedepan. Sehingga IKPMA dapat lebih lebih solid, lebih dinamis, lebih improvemen, dan lebih “go kemajuan”. Bravo IKPMA!!!¤

Laporan Khusus IKPMA Mesir

IKPMA, Raih peringkat terbaik kedua Akademis Almamater

dalam PPMI Academic Award 2007

Beberapa dekade terakhir ini, dalam setiap acara PPMI Academic Awards, IKPMA hanya bisa mampu menempati posisi enam terbaik dari sekian alamamter yang terdaftar di PPMI.

Satu anugerah yang patut disyukuri kepada Sang Kholiq, bahwa tahun ini (2007) merupakan tahun gemilang dan emas bagi IKPMA, karena dapat meraih gelar Almamater terbaik kedua dalam PPMI Academic Award 2007. “What is a dream?” begitu komentar kecil dari Mpo ‘Aisyah, Mpo Yayah dan Mpo Maftuhah yang hadir dan sempat terharu dengan hasil audit Tim Panitia yang diumumkan pada acara PPMI Acedemic Awards 2007 di Shalah Kamil beberapa pekan yang lalu.

Pada tahun ini juga, ternyata IKPMA bukan hanya mendapatkan peringkat terbaik kedua akademis almamater saja, melainkan telah mampu membuktikan bahwa salah satu anggota IKPMA (Saudara Khairul Anwar Ahmad, yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua IKPMA periode 2006-2007), mampu meraih prediket “Mumtaz” sekaligus menjadi Mahasiswa Terbaik Tingkat Dua, tahun 2007 ini. Ini adalah sejarah besar karena IKPMA baru pertama kali mendapatkan salah anggotanya yang bisa meraih peringkat “Mumtaz” ini, semoga ditahun-tahun berikutnya IKPMA kembali menelurkan Imtiyaz-Imtiyaz baru, Yarait!

Ditahun ini juga, IKPMA pun kembali mengantarkan dua anggotanya meraih gelar Strata 1 (Licence), mereka adalah: ‘Aisyaturridho, Lc. dan Yayah Fajriyah, Lc. Semoga, anggota IKPMA yang lainpun bisa menyusul jejak mereka, tentu dengan target yang maksimal.

Kalau tahun ini IKPMA mendapatkan anugerah yang besar, tentu berkat peran anggota IKPMA semua dalam memajukan akademis, baik secara individu maupun kollektif. Sebuah kesadaran individu dan kollektif yang perlu dipertahankan eksistensinya dari masa ke masa, sehingga anugerah besar ini tidak hanya berhenti sampai disini saja (kalau perlu tahun depan mendapat pringkat satu, Amin), melainkan harus bisa sampai pada aplikasi di masyarakat kelak. Usaha, kerja keras dan do’a selalu kita perjuangkan dalam setiap nafas kita, selanjutnya Allah yang menentukan semua itu. Sekali maju, harus terus maju dan maju, jangan pernah mundur IKPMA. Bravo!!!

Tapi… By The Way, Anyway, Bus Way… kapan nih tasyakurannya???he3. Red.